Putihnya Asap Vatikan: Paus Baru 2025 Resmi Diumumkan
Tinta Digital – Dunia menyaksikan momen bersejarah ketika asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina, menandai terpilihnya Paus baru yang akan memimpin lebih dari 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Setelah melalui empat kali pemungutan suara dalam konklaf yang dimulai pada Rabu (7/5), para kardinal akhirnya mencapai mufakat, dan secara resmi memilih Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267 dalam sejarah Gereja Katolik. Ia mengambil nama kepausan Leo XIV, dan menjadi Paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat.
Pengumuman resmi diumumkan dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, oleh Kardinal Protodiakon dengan seruan tradisional: "Annuntio vobis gaudium magnum, habemus Papam!" atau "Aku mengumumkan kepada kalian kabar sukacita besar, kita memiliki Paus!". Saat nama Robert Prevost disebut sebagai Paus Leo XIV, sorakan dan tepuk tangan riuh langsung menggema dari ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus. Suasana haru dan sukacita pun terasa begitu kuat, dengan umat dari berbagai negara mengibarkan bendera nasional masing-masing sambil menyanyikan pujian.
Paus Leo XIV muncul di balkon beberapa saat setelah pengumuman, mengenakan jubah putih kepausan, melambaikan tangan, tersenyum hangat, dan memberi berkat pertamanya yang dikenal sebagai Urbi et Orbi, berkat khusus untuk kota Roma dan seluruh dunia. Dalam pernyataan singkatnya, ia berkata, “Semoga damai menyertai kita semua,” yang disambut hangat oleh para hadirin.
Robert Francis Prevost lahir di Chicago, Amerika Serikat, dan telah mengabdi sebagai imam sejak ditahbiskan pada usia 27 tahun pada tahun 1982. Sebagian besar pelayanannya ia habiskan di Peru, tempat ia menjadi misionaris, guru, pastor paroki, dan akhirnya menjabat sebagai uskup. Ia juga memperoleh kewarganegaraan Peru, dan dikenal dekat dengan komunitas miskin serta para migran. Sebelum terpilih sebagai Paus, ia menjabat sebagai Prefek Dikasteri untuk Uskup, sebuah posisi penting yang menangani pengangkatan para uskup di seluruh dunia, serta Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.
Sebagai anggota Ordo Santo Agustinus, Paus Leo XIV dikenal memiliki pandangan progresif dan merakyat. Ia pernah menyatakan bahwa “uskup tidak seharusnya menjadi pangeran kecil yang duduk di kerajaannya,” menunjukkan semangat pelayanan yang rendah hati. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan pentingnya konsultasi dan partisipasi umat awam dalam kehidupan Gereja, sejalan dengan reformasi sinodal yang digagas oleh pendahulunya, Paus Fransiskus.
Konklaf 2025 yang berlangsung selama sekitar 26 jam sejak ditutupnya pintu Kapel Sistina, diikuti oleh 133 kardinal elektor dari berbagai negara. Proses pemilihan kali ini menjadi salah satu yang tercepat di era modern, dengan hanya membutuhkan empat putaran pemungutan suara. Asap putih yang muncul pada Kamis malam disambut dengan dentangan lonceng dari Basilika Santo Petrus, menandai akhir masa sede vacante dan dimulainya era baru dalam kepemimpinan Gereja Katolik.
Dengan latar belakang internasional, pengalaman pastoral di Amerika Latin, serta karakter yang dikenal bijaksana dan tenang, banyak umat dan pengamat Gereja menaruh harapan besar pada Paus Leo XIV. Ia dipandang sebagai sosok yang dapat melanjutkan arah pembaruan Gereja sekaligus menjadi jembatan antarbudaya dan antarbenua dalam komunitas Katolik global.
Paus Leo XIV kini memulai tugas berat sebagai gembala tertinggi umat Katolik dunia, menggantikan Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025. Dunia menanti arah kepemimpinannya—sebuah perjalanan baru yang dimulai dari kepulan asap putih di atas Kapel Sistina.
Ingin selalu update dengan berita terbaru dari kami? Pantau terus blog dan media sosial dari Tinta Digital!
Penulis : Sheila Lathifatul Adawiyyah



Komentar
Posting Komentar